Analisis Pengukuran Data Stunting Tingkat Kabupaten Pasaman

Bagikan :

Analisis Pengukuran Data Stunting  Tingkat Kabupaten Pasaman

 

A.   PENGUKURAN

 

Pengukuran dilaksanakan di semua Posyandu yang ada di Kabupaten Pasaman, yang dilakukan oleh Petugas Puskemas yang sudah dilatih tentang teknik penimbangan dan pengukuran tinggi badan balita dan dibantu oleh 2.145 orang kader yang tersebar di 430 Posyandu. Untuk balita yang tidak datang ke Posyandu maka akan dilaksanakan sweeping kerumah-rumah balita tersebut untuk ditimbang dan diukur tinggi badan/panjang badannya.

Pengukuran panjang badan atau tinggi badan balita dilakukan 2 (dua) kali dalam setahun yaitunya di Bulan Februari dan Agustus bersamaan dengan bulan pemberian Vitamin A dan obat cacing melalui kegiatan penimmbangan missal sejak Tahun 2018.

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat antropometri yang merupakan bantuan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan pengadaan Dinas Kesehatan kabupaten Pasaman dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus Penugasan Stunting. Akan tetapi jumlah alat antropometri ini belum mencakup semua Posyandu yang ada di kabupaten Pasaman.

Data yang dikumpulkan pada saa penimbangan missal sudah disesuaikan dengan format data yang ada pada aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) yang saat ini disebut dengan Siegizi Terpadu.

 

B.   ENTRY DATA

 

Hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan balita pada Bulan Februari dan Agustus di entrykan atau dimasukkan kedalam aplikasi e-PPGBM/Siegizi terpadu oleh Tenaga Gizi Puskesmas. Karena keterbatasan perangkat Komputer atau lapotop di Puskesmas dan belum maksimalnya jaringan internet disetiap Puskesmas mengakibatkan pengentrian data hasil penimbangan missal ini tidak bias selesai dalam waktu satu bulan setelah penimbangan. Akan tetapi Kepala Puskesmas dan Tenaga Gizi sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menyegerakan selesainya penginputan data ini.

 

C.   VALIDASI DATA

 

Validasi data dilakukan terhadap data balita dengan hasil pengukuran yang out lier atau dengan hasil standard deviasai yang melebihi plus tiga atau minus tiga standard deviasi dan balita dengan status gizi underweight, stunting dan wasting.

Validasi data dilakukan dengan melakukan kunjungan rumah dan melakukan pengukuran ulang. Jika balita memang ditemukan bermasalah gizi maka langsung dilengkapi data determinan penyebab masalah gizinya, diberikan konseling gizi oleh Tenaga Gizi Puskesmas atau Bidan Desa dan untuk balita kurus akan diberikan makanan tambahan (PMT Balita Kurus).

Hasil validasi data di entrykan kembali kedalam aplikasi e-ppgbm kalau seandainya memang ditemukan kesalahan pengukuran atau input data. Setelah data divalidasi sudah dapat dilihat laporan rekap status gizi balita baik untuk Tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Nagari.

 

D.  ANALISA DATA KABUPATEN

 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya. Bahkan, stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya.

Sejak Tahun 2018 Kabupaten Pasaman ditetapkan sebagai salah satu dari 100 kabupaten/kota lokasi khusus intervensi prioritas  nasional penanganan stunting berdasarkan data prevalensi stunting hasil riset kesehatan dasar Tahun 2013 dan berdasarkan survey sosial ekonomi masyarakat lokus stunting. Dimana terdapat 10 (sepuluh) Nagari yang ditetapkan sebagai lokus yaitu: Nagari Ladang Panjang, Binjai, Malampah, Koto Kaciak, Ganggo Hilia, Panti, Cubadak, Simpang Tonang, Muaro Sungai Lolo dan Koto Rajo.

Berdasarkan hasil analisis situasi prevalensi Stunting dan cakupan layanan Tahun 2019 terjadi penambahan 12 nagari lokus stunting baru dengan prevalensi stunting diatas 20% sehingga menjadi 22 Nagari lokus prioritas intervensi stunting yang terdiri dari 10 Nagari lokus intervensi prioritas nasional ditambah 12  Nagari yaitu Nagari Simpang, Alahan Mati, Ganggo Mudiak, Tanjung Baringin, Panti Timur, Lubuk Layang, Lansek Kodok, Tanjung Betung, Pintu Padang, Muara Tais, Lubuk Gadang dan Silayang.

Hasil penimbangan bulan Agustus Tahun 2020 pada aplikasi e-PPGBM menunjukkan prevalensi balita stunting di Kabupaten Pasaman sudah mengalami penurunan menjadi 19,6% dari 20,1% pada Tahun 2019.

Perkembangan perevalensi stunting di Kabupaten Pasaman dari Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2020 dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut:

TABEL PREVALENSI BALITA STUNTING

KABUPATEN PASAMAN TAHUN 2013 S/D 2020

 

NO

TAHUN

SANGAT  PENDEK + PENDEK

(STUNTING)

KETERANGAN

1

2013

55,2

HASIL RISKESDAS

2

2014

34,3

HASIL PSG KAB

3

2015

26,9

HASIL PSG PROP

4

2016

37,0

HASIL PSG PROP

5

2017

40,6

HASIL PSG PROP

6

2018

26,9

e-PPGBM

7

2019

20,1

e-PPGBM

8

2020

19,6

e-PPGBM

 

Atau secara grafik dapat dilihat sebagai beriku:

 

GRAFIK 1. PREVALENSI BALITA STUNTING

KABUPATEN PASAMAN TAHUN 2013 S/D 2020

 

 

Dari Tabel dan Grafik di atas diketahui bahwa sudah ada penurunan prevalensi stunting dari tahun ketahun mulai dari Tahun 2013 sampai dengan Tahun 2020. Riskesdas Tahun 2013 menemukan prevalensi balita stunting di Kabupaten Pasaman 55,2%, dan sudah turun menjadi 19,6% berdasarkan hasil penimbangan massal Tahun 2020.

Faktor determinan yang memerlukan perhatian adalah masih tingginya jumlah balita stunting yang tidak memiliki jaminan kesehatan, Jamban sehat dan anggota keluarga yang merokok, (untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

GRAFIK 2. REKAP DETERMINAN BALITA STUNTING

KABUPATEN PASAMAN TAHUN 2020

Faktor determinan yang paling tinggi adalah adanya anggota rumah tangga balita merokok pada 2254 balita stunting. Selain itu faktor determinan yang tertinggi kedua adalah tidak punya jaminan kesehatan dan yang ketiga adalah ketersediaan jamban sehat dirumah balita stunting.

Masih adanya anggota rumah tangga merokok akan berisiko terhadap tingginya angka penyakit pernafasan pada balita sehingga akan memperberat terjadinya masalah gizi. Tingginya balita yang belum mempunyai jaminan kesehatan berkaitan dengan ketersediaan dokumen kependudukan keluarga balita stunting tersebut dan juga sebagian penduduk belum mampu membayar atau menunggak pembayaran sehingga tidak mendaftarkan balita pada JKN atau keanggotaan PBI kadang tidak tepat sasaran.

Perilaku yang tidak sehat seperti tidak mempunyai jamban sehat, akses air bersih kurang dan belum imunisasi lengkap, serta kecacingan dapat menyebabkan penyakit diare berulang, Untuk itu perlu perhatian intervensi gizi sensitive dari lintas sector terkait dalam menangani masalah stunting pada balita.

Dari grafik diatas juga dapat dilihat kelompok sasaran yang berisiko yaitu balita yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap dan mempunyai penyakit penyerta sehingga akan berisiko meningkatkan stunting dan gizi kurang pada balita, dan juga diketahui kejadian stunting pada balita  juga berhubungan dengan riwayat status gizi ibu selama hamil, 383 orang balita stunting lahir dari ibu dengan riwayat kurang energy kronis pada masa hamilnya.